Rajin Pengajian, Dapat Becak Listrik dari Dahlan Iskan
Musanif (49), warga Kenteng Sawah, RW 007
Semanggi, Pasar Kliwon ini tak menyangka, jika dirinya akan mendapatkan bantuan
berupa becak listrik dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.
Mulanya dirinya hanya berangan-angan
memiliki becak listrik. Tak disangka, angan-angan itu pun menjadi sebuah
kenyataan. Seperti apa kisahnya?
Siang itu, udara di Kota Solo terasa begitu panas, Sabtu (27/6).
Namun hal itu tak menyurutkan langkah kaki penulis untuk dapat menemukan tempat
tinggal pria yang akrab disapa Sanif, itu. Di kampung Kenteng Sawah memang
sanif dikenal sebagai pria yang rajin dan pekerja keras.
Sehari-hari dirinya bekerja sebagai tukang pengayuh
becak. Sehingga tidak begitu sulit untuk menemukan tempat tinggalnya, itu.
Begitu sampai di depan rumah, seorang perempuan bernama Daliyem (45), tidak
lain adalah istri Sanif menyapa.
“Ada apa, mas? Mau cari siapa?,” ucapnya.
Selang beberapa saat kemudian, keluarlah seorang pria
berbadan gempal memakai peci putih, dengan baju kaos oblong, dan celena pendek.
Seketika pria itu langsung menyapa dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mari, mas? Bisa saya bantu?,” kata pria
kelahiran Pekalongan, 2 Nopember 1965 membuka pembicaraan.
Sepertinya, Sanif telah mengetahui maksud dan tujuan penulis ke rumahnya, itu. Yaitu
menanyakan dan mengetahui keberadaan becak listrik pemberian Bos dari Jawa Pos,
itu. Begitu mendengar nama Dahlan Iskan, Sanif pun langsung berbicara
panjang lebar mengenai becak listrik yang telah diterimanya.
Sanif mencerikan perjalanan dirinya mendapatkan becak
listrik. Sejak Tahun 2006 Sanif telah lama mengabdikan hidupnya sebagai jamaah
sekaligus petugas kebersihan di pangajian Habib Syach bin Abdul Qodir Assegaf
Pasar Kliwon. Selama kurang lebih delapan tahun mengabdi, Sanif rajin mengikuti
pengajian yang diselenggarakan Habib Syach.
Tanggung jawabnya sebagai seorang suami serta kepala
rumah tangga tidak ia lupakan begitu saja. Setiap malam Kamis pria kelahiran
Pekalongan Jawa Tengah (Jateng) itu selalu mengikuti pengajian Habib Syach.
Setelah itu, paginya berkerja mengayuh becak hingga siang hari.
Penghasilan yang diterima setiap harinya tidak
seberapa jika dibandingkan dengan pekerjaannya. Namun demikian, tak membuat
Sanif putus asa. Demi menyambung hidup dan sesuap nasi bagi keluarganya,
pekerjaannya itu terus digelutinya hingga sekarang.
“Hasil mbecak itu memang tidak seberapa dan tak
menentu. Terkadang banyak, terkadang juga sedikit. Rizki itu kan semua
sudah ada yang mengatur,” kata Sanif dengan senyum.
Tepatnya, Selasa (16/9) malam, seorang pria yang
mengaku utusan dari Habib Syach tiba-tiba mendatangi rumah Sanif. Malam itu
juga Sanif diajak pergi ke Kota Gudeg Yogyakarta. Tetapi Sanif tidak tahu jika
dirinya bakal diajak untuk mengambil becak listrik yang diangan-angankan itu.
Bahkan, istrinya pun sempat melarang suaminya untuk tidak pergi malam
itu juga.
“Ora duwe duit kok arep lungo, pak (tidak
punya uang kok mau pergi, pak),” kata Daliyem.
Memang rizki itu tidak bisa disangka datangnya. Begitu
mendengar apa yang dikatakan utusan dari Habib Syach bahwa semua biaya selama
di Yogyakarta akan ia tanggung, Sanif bergegas mengikuti tawaran itu. Setibanya
di Universitas Janabadra Jalan Tentara Rakyat Mataram Nomor 5 Yogyakarta, Sanif
mengaku kaget melihat bentuk body becaknya yang unik.
Ia mengaku belum pernah
melihat bentuk becak unik seperti itu. Sembari melihat-lihat, Sanif mengaku
tiba-tiba dirinya diminta Dahlan Iskan untuk mencoba becak listrik itu.
“Saya diminta Pak Dahlan untuk di belakang (nyopiri)
becak. Sementara Pak Dahlan berada di dalam becak.”
Sanif mengaku senang dan kagum becak yang dicobanya
itu akhirnya oleh Dahlan Iskan diberikan kepada dirinya.
“Alhamdulillah becak itu akhirnya diberikan kepada
saya secara gratis. Saya dipesan untuk menjaga dan merawat. Selain saya, teman
satu pengajian, Sama’i namanya juga mendaptkan becak listrik dari Pak
Dahlan.”(bib)








No comments:
Post a Comment